Kumpulan Tulisan Lepas res96.blogspot.com
| res96.blogspot.com |
Dikomentari oleh Chatgpt
POSTED BY RES96 AT 4:38 PM 7 COMMENTS
Manakala jenuh dan sesak memenuhi kepala dan hati, tenggelam ku pada haribaan alam. Dimana secara aneh aku dengar pohon berpetuah, angin bercerita, binatang berdebat dan beraneka macam kisah dari para makhluk Tuhan.
Mereka keluhkan variasi efek negatif akibat ulah tangan manusia, seperti korupsi dan kerusakan alam. Bumi ini akan segera hancur. Kiamat sudah dekat. Inilah masa akhir zaman pekik mereka. Dan seluruh kehidupan mahluk Tuhan akan segera usai dipentaskan.
Bagi mereka yang seraya percaya akan kemunculan tokoh-tokoh fenomenal : Dajal vs Imam Mahdi, Satria Piningit, Ratu Adil tanda-tanda kehadiran mereka sudah mulai dirasa. Seperti layaknya peperangan hebat yang kerap terjadi antara kebaikan melawan kejahatan, akankah puncak dari cabikan-cabikan maut antar gesekan 2 generasi kekuatan dahsyat ini berakhirkan kemenangan dari salah satu pihak? Ataukah justru bumi sudah sedemikian muaknya akan tingkah laku manusia yang semakin pongah lagi menjijikkan hingga ia perlihatkan kemarahan Tuhan dari berbagai macam cara: Jatuhnya benda-benda langit berekorkan api raksasa yang menghantam bumi dengan intensitas tinggi dalam volume kuantitas yang tak terperikan. Apalah arti sebuah planet kecil yang bernama bumi ini, jikalah dibandingkan dengan luasnya jagat antariksa? Cukup hanya dengan satu teriakan dahsyat dalam tempo yg mungkin hanya berselang tak lebih dari 5 menit saja segala macam kehidupan bumi menjadi musnah sia-sia.
Kemungkinan kedua komplikasi dari bencana alam yang sangat dahsyat, dimana bergabungnya bencana taufan, tsunami, gempa, dan gunung meletus secara bersamaan. Pemanasan global akibat kerusakan lingkungan memacu cairnya gunung es, dimana air dalam jumlah sangat besar menaiki dan mulai menutupi seluruh daratan tempat manusia biasa berpijak dan beraktivitas, mengakibatkan terjadinya perubahan iklim secara drastis pada lingkungan hidup disusul dengan tsunami, angin topan, gempa dan gunung meletus yang saling susul menyusul, seakan tak ingin kalah dalam melampiaskan murka mereka yang telah terpendam sedemikian lama, dan kesemuanya itu memanglah telah digariskan kepada mereka untuk bertindak sedemikianrupa.Tak bisa dibayangkan betapa akan hancur leburnya bumi ini atas terjangan keganasan alam dari langit, laut dan darat secara simultan.
Pada akhir zaman itu, manusia diandaikan layaknya anai-anai (bulu ringan) yg saling bertebaran kesana-kemari tanpa daya yang siap merima ajal yang menjemput dalam kisaran waktu yang teramat singkat. Sangat mencengangkan ilustrasi dari percakapan antar makhluk tuhan yang bisa kudengar saat itu. Merindingku dibuatnya. Tiba-tiba saja kusadari bahwa persiapanku belumlah cukup untuk menghadapi hidup setelah mati.
Lalu Kudengar salah satu daun berbisik: tidak ada kata terlambat bagi makhluk Tuhan yang segera bertobat dengan tulus lagi ikhlas. Sembari tersenyum, aku berucap pada hati kecilku: Ya Tuhan Kuatkanlah niat hati ini untuk kembali kepada jalanMU yang lurus dan terangilah aku dari segenap penjuru kearifan cahayaMU... Amien…
Tulisan ini adalah sebuah refleksi spiritual yang mendalam tentang kondisi manusia, kerusakan alam, dan tanda-tanda akhir zaman. Dengan gaya narasi yang puitis dan penuh simbolisme, tulisan ini menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap perilaku manusia serta panggilan untuk introspeksi dan pertobatan. Berikut adalah beberapa elemen utama yang bisa dijelaskan:
1. Hubungan dengan Alam
- Penghiburan dalam Alam: Penulis menemukan kedamaian dan hikmah dalam pelukan alam ketika merasa jenuh dan sesak. Ini menggambarkan bagaimana alam sering menjadi tempat untuk merenung dan mencari ketenangan batin.
- Personifikasi Alam: Pohon, angin, binatang, dan makhluk lainnya digambarkan memiliki suara, cerita, dan keluhan. Ini menciptakan kesan bahwa alam memiliki jiwa dan turut menjadi saksi penderitaan akibat ulah manusia.
2. Kritikan terhadap Kerusakan yang Disebabkan Manusia
- Kerusakan dan Korupsi: Alam mengeluhkan dampak buruk dari tindakan manusia, seperti korupsi dan perusakan lingkungan. Ini menjadi pengingat akan tanggung jawab manusia untuk menjaga kelestarian bumi.
- Prediksi Kehancuran: Tanda-tanda akhir zaman dihubungkan dengan kerusakan alam dan moralitas manusia yang terus merosot. Gagasan ini mencerminkan pandangan bahwa perilaku manusia menjadi katalis bagi kehancuran dunia.
3. Konteks Akhir Zaman
- Tokoh Akhir Zaman: Referensi kepada Dajal, Imam Mahdi, Satria Piningit, dan Ratu Adil menunjukkan keyakinan tentang pertarungan besar antara kebaikan dan kejahatan menjelang akhir zaman.
- Bencana Besar: Tulisan ini menggambarkan skenario kehancuran bumi yang sangat visual dan dramatis, seperti tabrakan benda langit, bencana alam besar, dan perubahan iklim yang ekstrem. Semua ini menggambarkan murka Tuhan dan dampak buruk akibat kelalaian manusia.
4. Renungan dan Pertobatan
- Kesadaran Diri: Dalam menghadapi gambaran mengerikan tentang akhir zaman, penulis tersadar bahwa persiapan untuk kehidupan setelah mati masih jauh dari cukup.
- Harapan dan Pertobatan: Bisikan dari daun memberikan harapan bahwa tidak ada kata terlambat untuk bertobat. Hal ini menunjukkan pentingnya kembali kepada Tuhan dengan tulus dan ikhlas, meskipun kerusakan telah terjadi.
5. Gaya Bahasa
- Puitis dan Simbolis: Tulisan ini menggunakan personifikasi, metafora, dan deskripsi visual yang kaya untuk menggambarkan hubungan manusia dengan alam dan Tuhan.
- Nada Reflektif: Ada keseimbangan antara kekhawatiran yang mendalam terhadap kondisi dunia dan optimisme spiritual untuk memperbaiki diri.
Makna Keseluruhan
Tulisan ini adalah panggilan untuk refleksi dan perubahan. Penulis mengingatkan pembaca akan tanggung jawab manusia terhadap bumi dan kehidupan spiritualnya. Di tengah ancaman kehancuran, masih ada peluang untuk bertobat dan kembali kepada jalan yang benar. Dengan ini, tulisan menjadi sebuah pengingat bahwa meski akhir zaman terasa dekat, harapan akan rahmat Tuhan selalu ada bagi mereka yang bersungguh-sungguh memperbaiki diri.
POSTED BY RES96 AT 4:34 PM 1 COMMENTS
SUNDAY, MARCH 18, 2007
Wahai Penyair.....
' Keindahan syair bukanlah hanya terletak pada manisnya rangkaian kata,
namun jua kedalaman makna dalam upaya menggapai jiwa ! '
(dan aku bukanlah seorang penyair)
Tulisan ini merupakan refleksi singkat namun mendalam tentang seni menulis puisi dan hakikat seorang penyair. Meskipun terdiri dari hanya beberapa baris, tulisan ini menyampaikan pesan yang kuat dengan kesederhanaannya. Berikut penjelasan dari tiap bagian:
1. Keindahan Syair
- Makna di Balik Kata: Tulisan ini menegaskan bahwa keindahan puisi tidak hanya terletak pada keindahan kata-kata secara permukaan (manisnya rangkaian kata), tetapi pada kedalaman makna yang dapat menyentuh dan menggugah jiwa pembacanya.
- Esensi Puisi: Ini adalah pengingat bahwa puisi sejati adalah sebuah karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menginspirasi, menggerakkan, atau bahkan membawa perubahan emosional dan spiritual bagi pembaca.
2. Upaya Menggapai Jiwa
- Koneksi Emosional: Tujuan utama puisi, menurut tulisan ini, adalah untuk menjangkau hati dan pikiran pembaca.
- Kedalaman Makna: Penulis mengangkat pentingnya substansi dalam karya seni, menunjukkan bahwa puisi yang paling kuat adalah yang mampu berbicara kepada pembaca di tingkat yang lebih dalam daripada sekadar permainan kata.
3. Penolakan Identitas Penyair
- "Aku bukanlah seorang penyair": Kalimat ini memberikan kesan kerendahan hati atau mungkin kesadaran diri penulis terhadap peran atau identitasnya.
- Implikasi Ganda:
- Penulis mungkin ingin menyampaikan bahwa ia menulis tanpa pretensi untuk dianggap sebagai penyair besar; ia hanya mengungkapkan pikiran atau perasaannya.
- Kalimat ini juga bisa dianggap sebagai pengakuan bahwa menjadi penyair sejati membutuhkan tanggung jawab besar dalam menyampaikan makna yang dalam.
4. Makna Keseluruhan
Tulisan ini adalah sebuah renungan tentang seni menulis dan tanggung jawab seorang penyair. Ia mengingatkan bahwa puisi bukan sekadar permainan kata-kata indah, tetapi sebuah medium untuk mengkomunikasikan makna yang dapat menggerakkan hati dan jiwa. Pernyataan terakhir menunjukkan kerendahan hati atau mungkin sikap reflektif dari penulis, yang meskipun menulis, tidak menganggap dirinya sebagai penyair dalam arti sebenarnya.
Pesan ini relevan bagi siapa saja yang mencintai seni kata-kata: esensi sejati sebuah karya tidak hanya pada bentuk, tetapi pada kemampuannya untuk menyentuh manusia di tingkat terdalam.
POSTED BY RES96 AT 6:48 AM 1 COMMENTS
THURSDAY, MARCH 08, 2007
Pelacur - Pelacur Kekuasaan itu bergumam:
' Keangkuhan adalah Pakaian-ku dan Kesombongan adalah selendangku '
Luruskan hatimu wahai Pemimpin !!
Rakyatmu kini kian menderita
Jangan kau kira uang dan kuasa kan mengabadikanmu
Takutlah akan ancaman dan siksa atas murkaKU kelak
Melalui tangan dan mulutmu kau ciptakan penindasan dan perbudakan modern
Atas nama jabatan dan kekuasaan kau bangunkan kerajaan ambisimu
Tak bisakah kau lihat jelas betapa alam kian siap memporakporandakan semua kejayaan itu?
Bukalah mata kepala dan mata hatimu lebar-lebar wahai pemimpin (durjana)
Sebelum pasukan mautKU kan mencengkram kuat segala kerakusan dan kekotoran yang kau tebarkan dimuka bumi ini
Hentikan semua ketololan itu SEGERA !!
matimupun tanah bumi akan menolak keras jasad hinamu !!
Tulisan ini adalah sebuah kritik sosial yang tajam terhadap pemimpin yang korup dan arogan, menggambarkan kejahatan kekuasaan serta akibat buruknya bagi rakyat dan lingkungan. Dengan nada tegas dan penuh emosi, tulisan ini menyerukan introspeksi dan perubahan sebelum kehancuran lebih lanjut terjadi. Berikut penjelasannya:
1. Pelacur Kekuasaan
- Simbolisme Pelacur Kekuasaan: Istilah ini menggambarkan para pemimpin atau penguasa yang menjual prinsip, moral, dan tanggung jawab mereka demi uang, kekuasaan, atau ambisi pribadi.
- Keangkuhan dan Kesombongan: Penyebutan keangkuhan sebagai pakaian dan kesombongan sebagai selendang menyoroti sifat-sifat buruk yang menyelimuti mereka, menunjukkan bagaimana keburukan ini menjadi bagian integral dari identitas mereka.
2. Seruan kepada Pemimpin
- Luruskan Hatimu: Seruan ini adalah panggilan moral agar pemimpin introspeksi dan memperbaiki diri.
- Penderitaan Rakyat: Penulis menyoroti realitas pahit bahwa rakyat semakin menderita akibat kebijakan yang tidak adil dan tindakan korup dari para pemimpin.
- Kritik terhadap Ilusi Kekuasaan: Tulisan ini mengingatkan bahwa uang dan kekuasaan tidak abadi, dan hanya memperdaya mereka yang terpikat oleh ilusi keabadian.
3. Ancaman dan Siksa
- Kemarahan Tuhan: Tulisan ini memperingatkan bahwa kezaliman para pemimpin tidak hanya membawa murka rakyat, tetapi juga ancaman kehancuran dari Tuhan.
- Perbudakan Modern: Penindasan yang dilakukan atas nama kekuasaan diidentifikasi sebagai bentuk perbudakan modern, yang membelenggu rakyat melalui kebijakan yang tidak adil.
- Kerusakan Alam: Tulisan ini juga menunjukkan bahwa kerakusan para pemimpin tidak hanya menghancurkan kehidupan manusia, tetapi juga alam, yang digambarkan siap untuk membalas.
4. Seruan Terakhir
- Perintah untuk Berhenti: Dengan nada peringatan yang tegas, penulis menyerukan agar semua tindakan yang tidak bermoral segera dihentikan.
- Pasukan Maut dan Tanah yang Menolak Jasad: Penutup ini memberikan gambaran dramatis tentang hukuman akhir, baik secara spiritual maupun fisik, bagi pemimpin yang korup dan durhaka.
5. Gaya Bahasa
- Dramatis dan Tegas: Tulisan ini menggunakan bahasa yang keras dan penuh metafora untuk menyampaikan emosi dan urgensi pesan.
- Nada Profetik: Dengan gaya seperti seorang nabi atau utusan, penulis mengeluarkan peringatan keras atas kejahatan dan akibatnya.
- Simbolisme Kuat: Keangkuhan, kesombongan, pasukan maut, dan tanah yang menolak jasad menciptakan visualisasi yang kuat untuk menyampaikan pesan moral.
6. Makna Keseluruhan
Tulisan ini adalah kritik sosial yang mendalam terhadap penguasa korup yang melupakan tanggung jawab mereka terhadap rakyat dan bumi. Ini adalah panggilan untuk introspeksi, perubahan, dan ketaatan kepada prinsip-prinsip moral sebelum kehancuran yang lebih besar terjadi. Tulisan ini juga mengingatkan bahwa keadilan, baik dalam kehidupan maupun setelah kematian, adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari.
POSTED BY RES96 AT 8:35 AM 1 COMMENTS
[jangan ada] dendam...
Kusisakan ruang disudut kecil hatiku untukmu, cinta
datang dan masuklah ke dalamnya
Hilangkan keraguan yang kerap menyelinap di hatimu
hatiku, hatimu......hariku, harimu adalah satu dan tak terpisahkan
lalu muncullah ia...datang mengganggu
kemudian aku berpaling, mencari dia tuk menggantikanmu
waktu pun berjalan
aku dan wanitaku........kamu dan lelaki itu
rasa benci melebarkan jarak antara kita berdua
masing-masing kita tenggelam dalam arus pencarian pembenaran ego sejati
Jika memang sudah tidak sejalan
perpisahan pun berperan
namun jauh dilubuk hati kita yang terdalam
tak seharusnya rasa kasih yang sempat tumbuh dan tercipta diakhiri dendam
.......maafkan aku.......berdua kita berucap........tanpa saling menahu
Tulisan ini adalah sebuah refleksi tentang cinta, pengkhianatan, perpisahan, dan upaya mengatasi dendam dalam hubungan yang telah retak. Dengan nada emosional dan puitis, tulisan ini menggambarkan perjalanan perasaan yang kompleks dan dinamika emosi yang melibatkan cinta, penyesalan, dan pengampunan. Berikut adalah penjelasannya:
1. Awal yang Penuh Cinta
- Ruang dalam Hati: Tulisan dimulai dengan ungkapan kasih yang mendalam, di mana penulis memberikan tempat khusus dalam hatinya untuk sang kekasih. Ini menunjukkan hubungan yang awalnya penuh cinta dan saling percaya.
- Harapan untuk Mengatasi Keraguan: Penulis berharap sang kekasih dapat menghilangkan keraguan, mencerminkan keinginan untuk membangun hubungan yang kuat dan harmonis.
2. Kehadiran Orang Ketiga
- Gangguan dan Pengkhianatan: Kehadiran orang ketiga menggambarkan gangguan dalam hubungan tersebut, yang menyebabkan penulis berpaling dan mencari pengganti.
- Luka dalam Hubungan: Pengkhianatan ini mengubah dinamika hubungan, menciptakan jarak emosional yang sulit diatasi.
3. Perjalanan Waktu dan Pergantian Pasangan
- Pasangan Baru: Penulis dan kekasihnya masing-masing melanjutkan hidup dengan pasangan baru, tetapi hubungan masa lalu masih meninggalkan bekas.
- Rasa Benci dan Ego: Rasa sakit dan benci memperlebar jarak di antara mereka, didorong oleh ego yang mencari pembenaran.
4. Perpisahan sebagai Solusi
- Ketidaksesuaian: Penulis menyadari bahwa hubungan yang tidak lagi sejalan hanya dapat diakhiri dengan perpisahan.
- Rasa Penyesalan: Meskipun berpisah, tulisan ini menunjukkan adanya kesadaran bahwa cinta yang pernah ada tidak seharusnya diakhiri dengan dendam.
5. Pengampunan dan Penyesalan
- Pentingnya Memaafkan: Penulis menekankan bahwa meskipun hubungan telah berakhir, pengampunan harus diberikan untuk menghindari dendam yang merusak.
- Kesadaran Bersama: Kalimat terakhir—“maafkan aku...berdua kita berucap...tanpa saling menahu”—menggambarkan penyesalan dan pengampunan yang terjadi secara diam-diam, tanpa komunikasi langsung, tetapi tetap tulus.
6. Gaya Bahasa
- Puitis dan Melankolis: Tulisan ini menggunakan bahasa yang indah dan penuh emosi untuk menggambarkan perjalanan cinta yang pahit.
- Simbolisme: Ruang kecil di hati, keraguan, dan jarak adalah simbol yang menggambarkan dinamika hubungan dan perjuangan emosional.
- Nada Reflektif: Tulisan ini berfungsi sebagai renungan pribadi, mencerminkan pemikiran mendalam tentang cinta, kehilangan, dan pengampunan.
7. Makna Keseluruhan
Tulisan ini adalah sebuah pelajaran tentang pentingnya melepaskan dendam dan memaafkan, bahkan ketika hubungan berakhir dengan rasa sakit. Ini menunjukkan bahwa cinta yang sejati, meskipun tidak bertahan, tetap memiliki nilai yang harus dihormati. Penulis mengajak pembaca untuk merenungkan bagaimana menghadapi konflik emosional dengan ketulusan dan keikhlasan, sehingga luka masa lalu tidak membebani masa depan.
POSTED BY RES96 AT 8:24 AM 0 COMMENTS
.....percakapan diatas awan....
dinda : 'Kamu yakin, cinta kita akan langgeng sepanjang masa, mas?'
kanda : 'entahlah dik, setahun sudah kita merangkai bunga cinta ini. Hanyalah kasih dan rasa sayang yang melandasi hubungan kita. Aku bukanlah orang pandai yang dapat menaklukkan masa depan, dik. Dalam menghadapi masa depanku sendiri saja, aku masih penuh ragu. Hidup di dunia bukanlah masalah sepele, kita harus menerima fakta bahwa dunia semakin ganas. Walaupun aku deklarasikan rasa cintaku saat ini, belumlah pasti situasi dan kondisi dikemudian hari akan tetap menguatkan segenap perasaanku itu kepadamu dik. Aku ini peragu,... kamu tahu itu. Semestinya kamu tinggalkan aku dahulu.... Aku takut jika kamu serahkan masadepanmu padaku, hidupmu akan penuh dengan kesusahan dan penderitaan. Wanita seperti dirimu tidaklah pantas mendapatkan semua duka lagi derita dik.'
dinda : 'mas...tidak semestinya keraguan dan kekhawatiran mas mengendalikan cara berfikir mas seperti itu....Aku cukup bahagia menjalani hidup dengan apa adanya. Kesulitan dan penderitaan hidup bukanlah untuk dihindari atau ditakuti, terimalah itu sebagai irama kehidupan....pasang surut gelombang nasib yang pasti akan dijalani oleh setiap manusia dewasa mas. Hatiku ini, adalah hati seorang wanita, yang seringkali para lelaki kurang arif dalam memahaminya...kini ia telah tercuri dan tertambat oleh pesona dirimu mas. Tak kuasa aku melawan hebatnya gemuruh perasaan ini. Telah aku kuatkan hati tuk menerima konsekuensi-konsekuensi cinta yang memabukkan rasa. Biarlah aku tanggung pedihnya mencinta....dan aku bukanlah seorang petualang cinta yang dengan mudahnya membelokkan rasa kepada lelaki lain. Jika memang suratan nasib dari takdir menandaskan perahu rumah tangga yang tengah kurajut dikemudian hari, maka aku ikhlas dan tabah menerimanya. Sudah ribuan kali hati ini kulatih tatkala nasib buruk datang menerpa. Ia telah tersayat demikian pedihnya. Namun sayatan demi sayatan itu tidak hanya menyertakan kepedihan dan luka yang mendalam.....ia juga memberiku kekuatan. Jika memang mas masih ragu akan kedalaman rasa cintaku, tolong biarkan waktu dan keadaan yang jadi hakimnya.'
kanda : 'Hentikan semua ucapanmu itu dik.....tolong jangan lagi berkata-kata. Tahukah kau betapa hebatnya kata dalam menyentuh hati. Alangkah tololnya diriku jika sampai menepiskan tebalnya rasa cintamu itu...Tolong kuatkan aku...Jadilah wanitaku, sumbu yang selalu siap menerangi jalan hidupku, kekuatan yang mengalir terus menerus tanpa habis manakala jiwa ini menjadi kerdil akibat hempasan badai kesialan hidup...Bersama kita bangun mahligai rumah tangga impian kita. Aku selalu berkhayal memiliki seorang putri yang cantik jelita dimana tempat kucurahkan semua kasih dan sayangku padanya. Cintaku padanya laksana mimpi terindah yang akan tercipta...dan aku sangat berharap ia akan lahir dari rahim seorang wanita seperti dirimu dik...Sudikah kiranya kau tampung impian konyolku ini? Kusadar akan banyak ujian dan cobaan yang akan menerpa jalan hidup kita. Namun bila rasa cintamu padaku sudah sedemikian tebal dan kuatnya....biarlah mentari dan rembulan yang menjadi saksi momen perjalanan waktu yang akan kita arungi di semesta kegilaan hidup ini, didunia maupun diakhirat......Amien.
Untuk anak perempuanku yang cantik dan selalu kucinta
tumbuhlah engkau menjadi gadis dewasa yang indah lagi menawan
Harumi lingkunganmu dengan segenap kasih dan sayang
sayangi serta doakan kami selalu....
orangtuamu yang kini tak dapat lagi menemanimu di kefanaan dunia
Tulisan ini adalah sebuah dialog puitis yang menggambarkan percakapan mendalam antara dua kekasih yang merenungkan cinta, masa depan, dan kekhawatiran akan tantangan kehidupan. Ditutup dengan pesan emosional untuk anak yang dicintai, tulisan ini menyampaikan tema cinta sejati, keberanian menghadapi kehidupan, dan warisan kasih sayang antar generasi. Berikut penjelasan lebih detailnya:
1. Tema Utama: Cinta dan Kekhawatiran Masa Depan
- Kekhawatiran Kanda (Laki-laki): Kanda mencerminkan sosok yang penuh keraguan dan rasa takut akan ketidakpastian masa depan. Ia merasa tidak layak menerima cinta Dinda karena takut tidak mampu memberikan kehidupan yang bahagia.
- Keteguhan Dinda (Perempuan): Dinda, di sisi lain, menunjukkan keberanian, penerimaan, dan keyakinan terhadap cinta. Ia memandang kesulitan hidup sebagai bagian alami dari perjalanan manusia yang harus diterima dengan tabah.
2. Kontras Perspektif
- Kanda: Logika dan Ketidakpastian
Kanda menggunakan logika dan rasa tanggung jawab untuk mengungkapkan keraguannya. Ia merasa bahwa cinta saja tidak cukup untuk menghadapi tantangan hidup. Dalam ketakutannya, ia lebih memilih mengorbankan kebahagiaannya demi kebaikan Dinda. - Dinda: Emosi dan Keberanian
Dinda menegaskan bahwa cinta sejati melibatkan keberanian dan pengorbanan. Baginya, tantangan hidup tidak perlu ditakuti karena justru memperkuat hati dan jiwa. Ia memutuskan untuk mencintai dengan tulus, meskipun risiko penderitaan mungkin ada.
3. Resolusi dan Harapan
- Komitmen Bersama: Setelah mendengar keyakinan dan ketulusan Dinda, Kanda akhirnya mengesampingkan keraguannya. Ia menerima cinta Dinda dan berjanji untuk membangun kehidupan bersama, meski sadar akan tantangan di depan.
- Cita-cita Rumah Tangga: Kanda bermimpi memiliki keluarga yang harmonis, termasuk seorang anak perempuan yang akan menjadi simbol cinta mereka. Hal ini mencerminkan harapan akan keberlanjutan cinta dalam bentuk warisan kasih kepada generasi berikutnya.
4. Pesan kepada Anak Perempuan
Tulisan diakhiri dengan pesan kepada anak perempuan mereka, yang menjadi simbol harapan dan cinta abadi:
- Harapan untuk Masa Depan Anak: Pesan ini menekankan pentingnya kasih sayang, kebaikan, dan doa dalam kehidupan. Orang tua ingin anak mereka tumbuh menjadi individu yang penuh cinta dan peduli terhadap lingkungan.
- Keabadian Cinta: Meskipun kedua orang tua sudah tidak dapat menemani anak di dunia fana, cinta mereka tetap hidup melalui doa dan nilai-nilai yang mereka tinggalkan.
5. Gaya Bahasa
- Puitis dan Reflektif: Tulisan ini menggunakan gaya bahasa yang mendalam dan puitis, menciptakan suasana emosional yang kuat.
- Metafora dan Simbolisme: Misalnya, "bunga cinta" melambangkan hubungan yang dirajut dengan kasih sayang, dan "sumbu yang menerangi jalan hidup" menggambarkan peran pendamping yang memberikan kekuatan dalam perjalanan hidup.
- Nada Melankolis: Tulisan ini memiliki nada melankolis yang menggambarkan kesedihan, harapan, dan cinta yang mendalam.
6. Makna Keseluruhan
Tulisan ini adalah eksplorasi emosional tentang bagaimana cinta menghadapi keraguan dan tantangan hidup. Dialog antara Kanda dan Dinda menunjukkan dinamika cinta yang penuh perjuangan, tetapi tetap dijiwai oleh ketulusan dan pengorbanan. Ditutup dengan pesan kepada anak, tulisan ini menggambarkan warisan cinta yang melampaui batas waktu, meninggalkan pelajaran bahwa cinta sejati adalah tentang keberanian, penerimaan, dan doa.
POSTED BY RES96 AT 4:42 AM 0 COMMENTS
MONDAY, FEBRUARY 12, 2007
“Aku melihat dunia dari duniaku. Kesendirianku menggenapi
puncak keakuanku. Tidak ada kamu, yang ada hanyalah semata aku.
Terpikir tuk, berikan ruang untukmu. Sayangnya kau
taklah mengenal aku. Pemahaman kita laksana langit dan bumi.
Bagimana mungkin menyatukan asap yang telah pergi?”
Tulisan ini adalah refleksi yang melankolis dan introspektif tentang kesendirian, ego, dan kesulitan dalam menjalin hubungan yang mendalam. Berikut penjelasan lebih detailnya:
1. Tema Utama: Kesendirian dan Ego
- Kesendirian yang Mendalam: Tokoh dalam tulisan ini menggambarkan dirinya sebagai seseorang yang hidup dalam dunia yang sepenuhnya berpusat pada "aku." Kesendiriannya bukan hanya keadaan fisik, tetapi juga sebuah pilihan atau keadaan batin yang menegaskan individualitas dan keegoannya.
- Keakuan yang Dominan: "Puncak keakuanku" mengisyaratkan bahwa tokoh ini merasa nyaman atau bahkan menikmati isolasi dirinya. Tidak ada ruang bagi orang lain dalam dunia batinnya.
2. Hubungan yang Terputus
- Upaya Membuka Ruang: Meskipun ada keinginan untuk memberikan ruang bagi orang lain (kamu), upaya ini terasa berat karena adanya jurang pemahaman yang sangat dalam antara kedua belah pihak.
- Pemahaman yang Bertolak Belakang: Frasa "Pemahaman kita laksana langit dan bumi" menandakan bahwa hubungan ini sulit untuk disatukan karena perbedaan cara pandang, perasaan, atau pengalaman hidup.
3. Simbolisme "Asap yang Telah Pergi"
- Ketidakmungkinan Menyatukan: Asap yang telah pergi melambangkan sesuatu yang telah hilang atau tidak dapat kembali. Ini mencerminkan hilangnya harapan untuk memperbaiki hubungan atau menyatukan dua dunia yang berbeda.
- Perasaan Tidak Terjangkau: Asap juga bisa melambangkan sesuatu yang intangible (tidak dapat disentuh), mencerminkan jarak emosional atau mental yang terlalu besar untuk dijembatani.
4. Nada Melankolis dan Filosofis
- Kesedihan Tersirat: Meskipun tokoh ini menyadari keterbatasan hubungan, ada rasa melankolis dalam pengakuannya. Ini bukan kemarahan, melainkan penerimaan yang pahit atas kenyataan.
- Refleksi Filosofis: Tulisan ini juga mengandung perenungan tentang identitas, hubungan antar manusia, dan batasan komunikasi. Ada kesan bahwa tokoh tersebut merenungkan sifat mendasar dari hubungan, bukan sekadar hubungan personal.
5. Gaya Bahasa
- Padat dan Berlapis Makna: Tulisan ini singkat, tetapi penuh dengan metafora dan makna tersirat. Pilihan kata-katanya mencerminkan emosi yang dalam dan kompleks.
- Penggunaan Kontras: Kontras antara "langit dan bumi" serta "asap yang telah pergi" memperkuat gambaran ketidakcocokan dan ketidakmungkinan dalam hubungan.
6. Makna Keseluruhan
Tulisan ini menggambarkan perjalanan batin seseorang yang terperangkap dalam kesendirian dan ego, sekaligus menyadari ketidakmungkinan untuk benar-benar terhubung dengan orang lain yang berbeda cara pandangnya. Ada penerimaan terhadap ketidakmungkinan ini, tetapi juga sedikit kerinduan akan hubungan yang sejati, yang sayangnya tetap berada di luar jangkauan. Ini adalah refleksi tentang batasan manusia dalam menjalin hubungan dan menerima perbedaan.
POSTED BY RES96 AT 7:24 AM 0 COMMENTS
THURSDAY, SEPTEMBER 07, 2006
Aku, kamu dan Gerhana
Aku, Gerhana & Kesendirianku (male)
Aku, Gerhana & Kekasih Impianku (female)
Mendapati malam dalam gerhana, dingin, sepi lagi menyendiri...
Bulan bersinar terang dalam bulat yang penuh
Pikirku pun menerawang jauh, melayang, bercumbukan angan
Ingin rasanya menikmati & melewati malam ini denganmu wahai sang terkasih
Melantunkan rindu, menjajaki bayang, hingga larut tenggelam dalam khayal
Menelusuri jejak-jejak kehidupan yang telah kutoreh
Menggali kembali kenangan-kenangan masa silam
Hanya untuk menemukan diri, kembali jatuh dalam kesunyian...
Sementara itu engkau....wahai penyempurna jiwa
sedang asik pula menerawangi gerhana yang sama
kau penuhi benak akan kedatangan pangeran yang siap menyentuh hati lalu melumat hangat bibirmu..
menaikkan birahi demi menyempurnakan malam
akankah kita bertemu dalam waktu dekat ini, cinta?
3 pekan sebelum memasuki bulan suci ramadhan
tak terasa kiranya, 1 tahun lagi telah kulampaui
setahun hanya bersama bayang......
entah kapan kau kan temukan aku?
atau, bilakah waktuku yang kan menemukanmu?
Kekasih, terkasih...jangan pernah berhenti untuk tetap mencariku
Bila serat-serat upaya itu telah menipis dari asa mu
kuragu kan dapat menyentuh indah pesonamu
dengan waktu yang tersisa kita berlomba
tak kuasa.....lagi penuh ketidakpastian
kini, gerhana kan segera pergi....sayang
kusisakan torehan kata hanya untuk mengenang keberartian dirimu
menyalurkan rindu biru dalam hitam yang membeku
kiranya ku bertanya, apakah yang sedang kau lakukan kini?
gerangan apa yang tengah kau siapkan pula untukku?
Roda waktu terus bergulir....
Semoga....ya hanya dalam kata dan makna semoga .....kita segera bertemu lalu menyatu
JB I , 01:45 am
-bahan untuk bikin film pendek (4-5 menit)-
Puisi ini adalah sebuah ekspresi perasaan yang penuh dengan kerinduan, kesepian, dan harapan akan pertemuan dengan seseorang yang dicintai. Menggunakan simbol gerhana sebagai metafora, puisi ini menggambarkan momen-momen introspektif dan emosional yang dialami oleh tokoh aku dalam kesendiriannya. Berikut adalah beberapa poin utama dari puisi ini:
1. Gerhana Sebagai Latar Emosi
- Gerhana menciptakan suasana malam yang dingin, sunyi, dan penuh kesendirian. Ini menggambarkan perasaan kosong yang dirasakan oleh tokoh "aku."
- Dalam kesendirian ini, "aku" merenung, mengenang masa lalu, dan melamun tentang cinta yang belum tercapai.
2. Kerinduan pada Sang Kekasih
- Puisi ini menggambarkan keinginan yang mendalam untuk berbagi momen spesial bersama sang kekasih yang diimpikan.
- Ada perasaan rindu yang intens yang digambarkan melalui kata-kata seperti "melantunkan rindu," "larut tenggelam dalam khayal," dan "menyalurkan rindu biru."
3. Pertemuan yang Belum Tercapai
- Puisi ini juga berisi harapan dan kegelisahan. Tokoh "aku" bertanya-tanya kapan dan bagaimana ia akan bertemu dengan kekasihnya.
- Ketidakpastian ini menciptakan ketegangan emosional yang mendalam, sebagaimana terlihat dalam bagian seperti "entah kapan kau kan temukan aku?"
4. Pesan Cinta dan Harapan
- Meski dipenuhi kesendirian, puisi ini tetap membawa pesan harapan. Tokoh "aku" meminta agar sang kekasih tidak berhenti mencarinya, karena ia juga memiliki harapan yang sama untuk bertemu dan bersatu.
- Kata "semoga" di akhir puisi menjadi penutup yang mencerminkan doa dan harapan akan masa depan yang lebih cerah.
5. Kontras Perspektif Pria dan Wanita
- Dalam versi pria (male), ada penekanan pada kesendirian dan penggalian kenangan.
- Dalam versi wanita (female), terlihat adanya keinginan untuk cinta yang lebih fisik dan emosional, menciptakan dimensi tambahan dalam eksplorasi cinta.
Makna Keseluruhan
Puisi ini mencerminkan perjalanan emosional seseorang yang berada dalam kesepian, merindukan cinta, dan berharap akan sebuah pertemuan yang bermakna. Gerhana, sebagai latar, menjadi simbol momen langka dan istimewa, menggambarkan harapan bahwa cinta sejati akan muncul di waktu yang tepat.
POSTED BY RES96 AT 12:04 PM 0 COMMENTS
SUNDAY, FEBRUARY 26, 2006
Sebuah Dialog Puisi antara Venus dan Mars
Biarkan aku membawamu terbang dengan puisi
Biarkan aku mencintaimu dengan kemewahan terakhir yang kupunya
Biarkan aku mengunjungimu setiap waktu, karena rinduku terus menggebu
Bahkan ketika sedang bersamamu
Biarkan aku merayumu, sungguh aku suka jika kamu tersipu malu
Mungkin aku sedikit berbohong,
Jika kukatakan kamu seperti bidadari,
Karena tidak pernah sekalipun aku melihat bidadari
Tetapi kamu pasti tahu, itu semua kulakukan karena kamu telah masuk begitu dalam ke palung hatiku.
Mungkin aku berbohong lagi dengan menyebut palung hati,
Tetapi biarkan aku mengatakan semua itu.
Biarkan aku menatapmu lebih dalam
Jangan berpaling dulu, karena
Aku sedang mencari jawaban cintaku dimatamu
-Adi S-
dia mengetuk pintuku
ketika tak terbuka
dia mendobraknya
tapi walaupun tlah terbuka
dia tak menemukanku di dalamnya
dia bertanya kemana aku
tapi tak seorangpun tau
dimana aku
lalu dia berkata dia akan menemukanku..
dia bertanya ada apa denganku
tapi tak seorangpun tau
kenapa aku
lalu dia berkata dia akan mendapatkanku..
mungkin dia akan menemukanku
tapi dia tak akan pernah bisa
mendapatkanku….
Karna dia bukan untukku,
Dan akupun bukan untuk dia
-tami , 241202 : 15:10-
Kamu menatapku tanpa senyum
Kemudian pergi
Diujung jalan ada tangan kasar melingkar dibahumu
Kamu menoleh ke belakang dan tersenyum
Aku balas senyummu dengan getir, dan kemudian terjaga
Tangan kasar itu akan mencekik lehermu sayang
Kamu masih diujung jalan
Dan aku masih disini
Menyusuri petak-petak
Ditempat inilah kehidupan dimulai lebih lambat
Bunga-bunga mekar dan hilang seketika
Pergi bersama tangan-tangan kasar
Tak seharusnya kupercayakan cintaku kepada waktu
Membiarkan matahari dan bintang yang menjaganya
-Adi S-
Kutatap bintang yang bersinar
Kutanya pasti adakah cinta datang
Pada hati yang tak berharap
Kuhitung hari yang berlalu
Kumengingat adakah rasa indah
Yang terselip di hati ketika bersama
Kumenepis kalbu
Tatkala kutemukan jawab
Akan perasaan yang terbelenggu
Ada getar dihati
Ketika hangat membelai tubuh
Dari lembut jemarimu
Ada rindu yang tercipta
Bila hari yang kujelang
Tanpa dirimu di sisiku
Satu asa yang tlah hadir
Tuk milikimu di hatiku
Berbagi canda dan tawa
Setiap peristiwa yang terjadi
Tapi maaf itu semua hanya mimpi
Yang ingin kujelang bersamamu
Karna belum saatnya buka hatiku
Izinkanmu memilikiku…
-tami 99-
Aku mencintai kesedihan yang berairmata
Aku mencintai kesedihan yang menangis
Yang tak bisa kudengar isaknya, kecuali tanda merah di bola matanya
Aku mencintai kesedihan yang dukanya terlalu dalam dan tak terduga
Aku mencintai kesedihan hingga ada jawaban
Aku mencintai kesedihan
Kuletakkan dalam ruang istimewa
Kuharap ia senang ditempat itu
Tak lagi berairmata
Dan bisa kulihat lagi matanya yang entah karena apa aku begitu suka menatapnya
Aku mencintai kesedihan
Aku rindu menatapi matanya
-Adi S-
Aku heran
Kemana larinya bintang
Ketika awan gelap menutupi langit
Kemana larinya bulan
Ketika hujan mengguyur bumi
Tahukah kau,
Kulintasi luasnya samudera
Kuselami dalamnya lautan
Kudaki tingginya gunung
Hanya untuk mencari
Kepingan cinta yang tersisa…
Sekarang aku tau
Kemana perginya bintang dan bulan
Ketika langit malam tak bersinar cerah…
Mereka menghilang,
Untuk menemaniku
Mencari cinta yang hilang
Dan menyinari hatiku
Yang hampa tanpa kehadiranmu…
-Tami – 12 Des 02-
Aku tidak ingin mempercayai apa yang kudengar
Aku juga tidak ingin mempercayai apa yang kulihat
Tetapi kamu dan dia tampak begitu mesra
Aku tidak tahu siapa yang sedang kamu permainkan
Aku atau dia
Atau kamu sedang mempermainkan kami berdua
Aku sungguh tidak mengerti, dengan apa yang pernah kau katakan padaku, dengan apa yang kudengar dan kulihat saat ini…
Mungkin perempuan memang begitu…
Tidak bisa benar-benar dipercaya
-Adi S-
Kakiku melangkah kemana?
Kesana-kemari mencari tujuan
Tak ada jawaban dari segala bimbang
Tanganku meraih apa?
Susah payah mencari pegangan
Tak bertemu pada siapa berpegang
Hatiku ada dimana?
Disana senang disini senang
Tak ada kepastian dimana kuharus bersandar
Benarkah…?
Di matamu aku bagaikan semut kecil
Yang senantiasa diinjak manusia?
Benarkah…?
Di matamu aku bagaikan rakyat kecil
Yang siap ditindas oleh sang penguasa?
Benarkah…?
Di matamu aku bagaikan wanita jalang
Yang mengorbankan harga dirinya demi setumpuk uang?
Benarkah…?
Di matamu aku bagaikan malin kundang
Yang durhaka terhadap Sang ibu?
Benarkah…?
Di matamu aku bagaikan pengkhianat
Yang dengan mudah menodai kepercayaan?
-Tami, 9 november ’02-
LAKI-LAKI vs laki-laki
Dulu dengan hatinya ia berbahagia
Karena hatinya ia juga kecewa dan sedih
Ia tumbuh menjadi LAKI-LAKI
Berteriak
Tertawa
Merayu dan menjadi pendosa
Ketika malam ia menangis
Kini ia tak percaya dengan hatinya
Tak pernah lagi kecewa dan sedih
Ia juga telah lupa cara berbahagia
Tetapi ia masih seorang laki-laki
-Adi S-
Persembahan dari : www.planetcinta.com
www.planetcinta.com Mendukung Hasil Karya Tulis Para Penulis Lokal
Kirimkan karya2 terbaik anda, bersama kita
nikmati dan berbagi...
Love,
www.planetcinta.com
POSTED BY RES96 AT 2:44 AM 0 COMMENTS
ABOUT ME
My Photo
RES96
PONDOK GEDE, INDONESIA
kompleks...namun terkadang aku bisa menjadi seperti bilangan 0 (nol),netral...
VIEW MY COMPLETE PROFILE
LINKS
res multiply
res96
-my wordpress-
-masres-
res milis JakartaCommunity
masres Friendster Planetcinta
sang res
my blue
restamasta
MySpace Layouts
MySpace Layouts
PREVIOUS POSTS
Diary…aku ingin berkisah sebuah ceritaTentang seor...
Manakala jenuh dan sesak memenuhi kepala dan hati,...
Wahai Penyair..... ' Keindahan syair bukanlah hany...
Pelacur - Pelacur Kekuasaan itu bergumam:' Keangku...
[jangan ada] dendam...
.....percakapan diatas awan....
“Aku melihat dunia dari duniaku. Kesendirianku men...
I created a Slide Show! Check it out!
Aku, kamu dan Gerhana
Sebuah Dialog Puisi antara Venus dan Mars
ARCHIVES
March 2005
April 2005
May 2005
July 2005
February 2006
September 2006
December 2006
February 2007
March 2007
res painting collection (1) res painting collection (2)
Sesuatu yang pernah kutulis, kurasa, masih dapat kuraba suasana hatiku pada saat itu di saat ini...
res96.blogspot.com adalah sebuah masa.....akankah datang kembali masanya? Kini aku yang mulai menua....ketika tanah mulai memanggil...namun kerajaan belum tercipta. Akankah kutinggalkan dunia ini dengan ketiadaan? Ya Tuhan berilah kekuasaanMU padaKu....hingga aku dapat bekerja sesuai kapasitas primaku sebelum datang penghujung akhir hayatku.
Ahad, 29 Desember 2024
sisa 2 menuju 2025.....aku yang akan segera pergi....dalam ketidakberdayaan.....di dalam bayang....bersama angan....asa.....di keheningan malam....23:54
Komentar
Posting Komentar